Bayangan


 Ada namun tak nyata
Hanya sebuah ketidakpastian
Hadir disaat terang datang
Pergi seketika gelap datang
Sebuah penungguan yang tak henti
Tak pasti kedatangannya namun berarti
Bila lelah hadir, bayangan datang seketika
Bila lelah menggeluti raga, bayangan datang seketika
Ketika sirnanya lelah, bayangan tak kunjung hadir
Ohh, sungguh tak pasti
Sebuah harapan akan kedatangan
Kedatangan yang tak pasti
Hingga lelah datang kembali dan sebuah harapan bayangan akan sirna

nsa





Masih terniang akan goresan pena yang terukir dilembaran kertas waktu ku kecil.
Goresan sebuah cita-cita yang tak tahu mengapa diriku memilih menggoreskan kata itu.
Ya "Guru" itu yang tertulis dilembaran kertas.
Semakin bertambah umur, cita-cita itu tak lagi menjadi primadona di hidupku.
Aku lupa, tak terbesit lagi keinginan hal itu.
Hingga seketika, suatu keadaan yang memaksaku untuk terjun.
Terjun untuk meningkatkan kualitas lembaga.
Hanya itu tujuan,
Diriku mulai berbaur, sungguh ku kecewa.
Kecewa kenapa tak dari dahulu aku menyadari bahwa menjadi guru itu hal yang indah.
Walau finasial yang tak seberapa, ku kagum.
Ku jalani profesi itu bersama ibu.
Ibu yang mengajariku banyak hal.
Andai semua tau, mengajar terutama anak usia dini bukan hal mudah.
Engkau harus menjadi bagian mereka tanpa mengurangi wibawamu.
Mendidik mereka ibarat melukis dikertas kosong. Putih bersih itulah mereka. Perubahan drastis, itu kulakuan
Andai semua tahu betapa pemalu diriku, hingga bertemu tanpa sapa saja membuat jantungku berdetak, kehabisan kata untuk berbicara walau hanya sepatah.
Berdiam diri, tak berani menyampaikan pendapat, itulah diriku dahulu.
Hingga saat nya, jika diriku tetap dalam keadaan seperti itu kan membuatku diam dalam gelap nya hidup.
Kemampuan ekonomi keluarga tak sebanding dengan mereka yang bergelimang harta dan tahta, tapi ketulusan berbagi keluarga menandingi semua.
Kesederhaan mengajarkan ku untuk maju bersama bukan hanya untuk diriku tapi penerusku.
Kuliah kerja nyata menambah pengalamanku, pengalaman untuk tetap bersyukur dan berusaha.
40 hari di desa orang tak mengenal siapapun.
Namun teriakan anak kecil memanggil jelas ingin mengenal.
Sebuah masjid di dekat pinggiran sungai menjadi tempat ku bertemu dengan mereka.
Belajar banyak dari kesederhaan mereka.
Tanpa tuntutan mereka antusias belajar bersama. Walau pengalaman yang ku punya masih sedikit, tapi ku ingin pengalaman yang pernah ku dapat dapat tersalurkan.
Sore itu habis azan Ashar berkumandang, bergegas lah menuju masjid, terlihat anak-anak ramai menanti dengan mengengam buku serta pensil ditangan. Raut senang mereka pancarkan. Belajar dan bernyanyi bersama. Sungguh hal yang indah. Hingga seketika datang seorang anak perempuan dan berkata "ayuk mirip samo ayuk aku, rainyo terus galak senyum, yuk ajari kami yuk les". Mereka butuh orang yang mendidik dengan ikhlas, dengan keterbatasan ekonomi mereka masih antusias belajar. Kangumku sekali lagi ketika azan subuh berkumandang terdengar suara kecil memanggil dari luar. Kau tahu ya anak perempuan sendiri dengan mukena ditangannya mengajak shalat. Sungguh berani ia setiap subuh pergi ke masjid dengan jalan yang gelap, bersama ibunya namun ibunya harus pergi bekerja subuh itu. Anak sekecil itu anak sd melakukan hal indah. Sungguh kagumku didikan dari orang tua yang hebat. Bersyukurlah mereka dengan keterbatasannya mampu untuk berusaha, kita yang diberi sedikit rezeki haruslah bersyukur, kita bisa les tanpa harus bekerja, kita bisa pergi kemanapun yang kita mau, mengeluarkan pundi pundi uang dengan percuma. Tapi mereka sungguh luar biasa. Mereka penerus yang harus didik dengan sebaiknya. Didik lah anak dengan sebaiknya ajarkan mereka hal yang baik, kesopanan, rasa bersyukur, keikhlasan. Hingga nantinya kita bangga ketika kelak ajaran yang kita berikan berguna dengan baik bagi mereka. Sukseslah nakπŸ’•πŸ’•

Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (GERNAS BAKU)




Ayah... Ibu...
Anakmu bangga padamu
Lelah letihmu tak engkau hiraukan
kalian datang dengan senyuman
duduk disampingku dengan buku yang berbeda setiap malamnya.
buku dengan penuh warna yang engkau bacakan.
Hingga diriku tertawa lepas bahkan menangis karena mendengar ceritamu. 
Hingga ku mampu bermimpi dan berani mewujudkannya.

Ayah.. Ibu
anakmu sayang padamu
engkau menunda waktumu untuk tak mengengam handphonemu,
engkau menunda untuk bercanda tawa dengan teman, 
engkau menunda semua pekerjaanmu, 
hanya untuk membacakan aku buku setiap malamnya hingga diriku terlelap.

Ayah.. Ibu..
anakmu bersyukur mempunyai kalian.
tak lagi merasa kesepian karena setiap harinya engkau tak lupa membacakan aku buku.
Kan kusimpan semua ceritamu dalam memori ingatanku karena ku suka semua cerita yang engkau bacakan.
Terima kasih Ayah Ibu, karena kalian aku berani bermimpi.

Karya : Bunda Nurul Saniah Alsoyuna



5 Mei 2018
GERNAS BAKU atau Gerakan Nasional orang Tua Membacakan Buku.
Ayo bacakan anak buku. Hal yang dihiraukan oleh orangtua. Tak perlu lama hanya beberapa menit kita luangkan waktu untuk mereka. Tumbuhkan minat baca mereka. Bacakan mereka buku, biarkan mereka berimajinasi jangan batasi imajinasi mereka. Bacakan semua cerita bernilai positif hingga mereka mampu dan berani nantinya mencapai cita-citanya. Hingga mereka mampu mengenggam dunia. Betapa bangga kita sebagai orang tua jikalau nantinya anak kita berhasil menanamkan apa yang kita berikan tanpa harus membuat jarak antara orangtua dan anak. 






Alam nan Indah dengan hamparan ilalang yang melambai 
matahari dengan sinarnya yang menampakkan keindahan kala siang itu
deraian angin lembut seakan membawamu jauh dalam kenikmatan fana
 seakan duniamu tentram
seakan masalahmu memudar
engkau tahu?
alam menunjukkan semua
semua keindahan sekecil apapun walau kadang tak bernilai dengan kata harga
tak ada kata perbedaan
layaknya yang terlukis dalam kehidupan


                                                               nsa


Bahagialah dengan cara yang benar

Dunia anak memang indah penuh dengan kebahagiaan.
Canda tawa lepas sudah tanpa beban
melihat tawa, kepolosan dan sopan santun, mereka tunjukkan dengan ikhlas.
Bersih tanpa noda.
Senang bukan main ketika dari kejauhan mereka teriak "Bundaa" seolah kedatangan kita sangat dinantikan mereka.
Dunia anak inilah setiap gerak tubuhku, setiap perkataanku, setiap perbuatanku dihargai tanpa ada keluh kesal yang menyayat hati.
Setiap goresan tinta dari tanganku dengan bentuk berbeda dengan cerita yang terlontar dari mulutku tak sabar mereka dengarkan dengan raut wajah senang.
Bahagia bukan ketika semua orang seusiamu menyatuhkanmu, menolakmu bahkan menghinamu tapi mereka, anak anak dengan polosnya menghargai setiap usahamu sekecil apapun.
Dunia anak dimana dirimu dituntun mendidik dan memgajarkan mereka adab dan akhlak yang baik, hingga nanti kelak mereka akan menghargai setiap tindakan orang lain dengan sopan santun.
Banyak orang mengganggap hal tersebut remeh karena mereka hanya melihat dengan mata.
Mereka mengganggap dunia anak hanya bermain dan bernyanyi tanpa mengetahui maksud dari hal tersebut.
Dikala mereka bermain mereka diajarkan arti kerjasama, tolong menolong, berhitung, motorik kasar, motorik halus dan sebagainya.
Banyak beranggapan hal tersebut tidak penting karena mereka tak tahu dibalik semuanya.
kadang terlintas sikap, perilaku, cara bicara dan sopan santun anak anak lebih baik dari pada orang dewasa.
Mereka tak segan dan tidak malu meminta maaf jika salah dan memaafkan, mereka tak segan berbagi meski sedikit dan mereka tak segan tersenyum dan tertawa untuk menghargai orang lain.
Lantas bagaimana kita sebagai orang dewasa?
pernahkan kita tersenyum pada orang? pernahkan kita berbicara yang sopan santun dengan orang? pernahkah kita menolong dengan ikhlas? pernakah kita mengakui kesalahan?
Banyak orang akan menjawab pernah namun kenyataannya harta, tahta dan kepintaranmu yang menjadikan orang berbuat seperti itu bukan karena mereka ikhlas melakukannya.
.
.
Hiduplah dengan penuh kebahagiaan diri sendiri dan orang lain πŸ’

nsa

Sahabat yang Hilang

Sahabat yang Hilang

terlahir sendiri, hidup dan mati pun sendiri
tak usah beranggan jauh kan ada yang menemanimu
walau hanya di dunia fana
namun, ku terlena dengan indahnya insan di dunia fana
menjalin suatu ikatan atas nama "sahabat"
bertahun-tahun terlewati
dengan harapan nama sahabat kan sesuai dengan maknanya
namun harapan ku terlalu jauh hingga ku terjatuh
mereka hilang, mereka hilang hanya karena sebuah nasihat
nasihat yang menghilangkan kenangan itu
air mata yang mengalir jelas
air mata harapan, hilang mengalir 
air mata kepercayaan mengalir hingga tak terlihat lagi wujudnya
kalimat yang terniang akan sahabat yang saling menasehati walau hanya sebuah kebenaran, sahabat yang ada saat suka duka
mereka hilang, hilang terbawa dunia fana
sukses bersama, suka duka bersama tak menjadi hirauan
mereka hanya ingin terbang tinggi sendiri
hingga menghiraukan kata "sahabat"
hingga ku sadar sahabat bukan yang selalu menatap wajahnya, bukan yang mengeluh disaat kita butuh, bukan dengan keegoisannya
mereka hanya butuh kita saja untuk sementara waktu berjalan memanfaatkan nama "sahabat"
salah ketika terlalu percaya akan semua hal yang terjadi dengan hati
iri menyelimuti hati
ketika terlintas kisah baginda rasul Muhammad yang memiliki sahabat hingga akhir hayatnya bahkan ketika dunia fana tak berada disisinya
namun ku tahu sejatinya egois tetap menyelimuti setiap insan 



                                                                                                                                                       nsa
 


Don't Judge People

Setiap insan pasti mampu menciptakan seni dengan imajinasinya,
Seni yang butuh proses,
Seni yang datang dari apapun, manapun, kapanpun,
Layaknya diriku yang mulai mencoba memahami arti seni ketika beranjak dewasa,
Disaat pola pikirku sudah cukup untuk memahaminya,
Seni yang terukir berawal dari sebuah anggapan,
Sebuah anggapan, hanya mereka dengan bakat seni dari lahir yang mampu melakukannya,
Anggapan yang menyebabkan sebuah rasa kecewa terpendam,
Sehingga ini pelampiasanya,
Walau butuh proses, hingga diriku mampu mengikis sebuah anggapan itu,
Sebuah anggapan yang menjadikan diriku harus berusaha,
Berusaha menyingkirkan anggapan yang akan merendahkan dirimu,
Ada kalanya ingin ku tunjukkan semua orang mampu melakukannya,
Karena bakat bukan hanya masalah gen, bukan masalah harta, tahta tapi bakat mampu kita ciptakan sendiri,
Dengan seni engkau mampu menciptakan duniamu,
Dunia yang benar diinginkan karena kepuasan batinmu terpenuhi,
Tanpa harus berlomba memamerkan harta, tahta yang sejatinya bukan milikmu,